Cerita Fabel Bergambar : Hutan Huhusa Menghitam

Halo semua, kali ini judulnya cerita fabel bergambar : Hutan Huhusa Menghitam yang bercerita tentang Robert Tikus, Rosi Tupai dan Kaci Kancil, bakalan seru loh ceritanya dan ada pesan baik untuk teman-teman semua. Yuk langsung kita baca!

Cerita Fabel Bergambar : Hutan Huhusa Menghitam
Cerita Fabel Bergambar : Hutan Huhusa Menghitam

Baca SelengkapnyaCerita Fabel Bergambar : Hutan Huhusa Menghitam

Cerita Fabel Gajah : Gagi dan Kehebatannya

Halo semua, kali ini judulnya cerita fabel gajah : Gagi dan Kehebatannya yang tokoh utamanya adalah Gagi Gajah. bakalan seru loh ceritanya dan ada pesan baik untuk teman-teman semua. Yuk langsung kita baca!

Cerita Fabel Gajah : Gagi dan Kehebatannya

Pada suatu pagi yang cerah di tengah hutan belantara, Foti Monyet dan Joo Kelinci bermain tebak-tebakan. Ada tiga tempurung kelapa di atas bekas tebangan pohon yang dijadikan meja oleh mereka. Di salah satu tempurung itu, Foti menyembunyikan batunya.

“Yang mana, ya?” Joo Kelinci mengira­ngira, di tempurung mana batu itu berada.

Tiba-tiba, Gagi Gajah datang. Gagi menyuruh Foti dan Joo untuk berhenti bermain.

“Aku mau tanya. Di antara kalian, siapa yang paling hebat?” tanya Gagi Gajah.

Foti dan Joo tidak menjawab.

“Tentu yang paling hebat adalah aku, Gagi Gajah,” sahut Gagi Gajah yang terlihat bangga sambil menepuk dadanya dengan belalainya.

“Kenapa kamu merasa bahwa kamu yang paling hebat, Gagi?” tanya Foti.

“Lihat ini!”

Gagi menunjukkan kehebatannya. Ia mengangkat batang pohon besar dengan belalainya, kemudian menaikturunkan ba­tang pohon itu. Foti Monyet dan Joo Kelinci hanya diam. Mereka tidak menanggapi ucapan Gagi.

Gagi memang hewan tersombong di hutan belantara. Gara-gara tubuhnya yang besar dan kuat, dia sering meremehkan hewan lain. Dia menganggap dirinya paling istimewa.

“Ini baru kehebatan belalaiku, belum semuanya,” kata Gagi.

Gagi Gajah melanjutkan aksi kehe­batannya. Dengan gadingnya yang kuat, Gagi menggali tanah. Wow! Dari lubang yang digali Gagi, keluar mata air.

“Lihat kekuatan tubuhku!” seru Gagi.

Tubuh besar dan kuat Gagi menubruk pelan pohon apel. Bruk! Bruk! Bruk! Apel­-apel jatuh ke tanah. Gagi tertawa puas. Dia mengambil apel-apel itu dan memakan semuanya.

“Apa kalian bisa melakukan semua yang aku lakukan tadi? Tentu tidak. Kalian tidak sehebat aku,” ucap Gagi lagi.

Baca juga:
Anak-Anak Nyonya Desi Bebek
Belajar Rasi Bintang
Balon Meletus

“Tetapi, apa kamu bisa memanjat sepertiku?” tanya Foti Monyet.

Foti lantas memanjat pohon apel dan memetik apel. Beberapa apel dia lemparkan ke bawah dan ditangkap Joo Kelinci. Ya, Foti memang memetik apel itu untuk Joo Kelinci.

Joo Kelinci memakan apel pemberian Foti Monyet. “Hmm, manis sekali apelnya. Terima kasih, Foti.”

“Sama-sama, Joo,” jawab Foti, lalu beralih ke Gagi. “Aku bisa mengambil apel yang manis tanpa menubruk pohon ini dan membuat buah yang belum matang jatuh sepertimu tadi.”

Gagi Gajah tidak bisa menjawab. Ia membayangkan dirinya memanjat pohon. Pohon itu pasti seketika ambruk, bahkan sampai ke akar-akarnya. Gagi Gajah tidak mungkin bisa memanjat dengan tubuh sebesar ini.

Foti Monyet turun dart atas pohon. “Apa kamu bisa melompat seperti kami?”

Foti Monyet dan Joo Kelinci melompat. Joo Kelinci bahkan bisa melompat dengan tinggi.

“Kamu juga tidak bisa melompat, Gagi. Kakimu tidak bisa ditekuk. Makanya, ketika kite bermain lompat tali, kamu hanya bisa duduk diam,” kata Joo Kelinci.

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa melompat.” Gagi mengakui keku­rangannya.

Ah! Melompat itu hal kecil, tetapi Gagi tidak bisa melakukannya. Gagi merasa sangat malu sekarang. Dia kini sadar bahwa semua hewan punya keistimewaannya masing-masing yang tidak bisa dilakukan oLeh hewan lain.

Pesan Moral : Semua orang memiliki keistimewaan masing-masing. Jadi, kita harus saling menghargai, ya.

Selain Cerita Fabel Gajah : Gagi dan Kehebatannya, baca juga cerita anak terbaik kami lainnya. Dan jangan lupa untuk terus ikuti kami di facebook kita yah https://www.facebook.com/katakatakitadotcom/.

Cerita Fabel Kelinci : Diikuti Awan

Halo semua, kali ini judulnya cerita fabel kelinci : Diikuti Awan yang bercerita tentang Somi Kelinci. bakalan seru loh ceritanya dan ada pesan baik untuk teman-teman semua. Yuk langsung kita baca!

Cerita Fabel Kelinci : Diikuti Awan

Cerita Fabel Kelinci : Diikuti Awan
Cerita Fabel Kelinci : Diikuti Awan

Ada awan putih yang mengikuti Somi Kelinci. Awan itu menghalangi terik matahari, sehingga jalan Somi jadi lebih teduh. Somi menyukainya. Tetapi, dia penasaran, kenapa awan itu mengikutinya?

“Apa kau mau mengikutiku sampai ke rumah Kakek Gord Kelinci, Awan?” tanya Somi Kelinci seraya mendongak ke atas.

“Aku tidak mengikutimu. Aku memang mau ke bukit itu. Ya, di bukit itu memang ada rumah Kakek Gord,” jawab Awan.

Somi tidak percaya dengan jawaban Awan. Sebab Somi menyadari bahwa dari rumahnya sampai pertengahan jalan ke rumah Kakek Gord ini, Awan terus mengi­kutinya.

“Jujur saja, Awan. Kenapa kamu mengi­kutiku?” desak Somi.

“Aku sudah bilang, aku tidak mengi­kutimu. Lebih baik aku mendahuluimu saja. Sampai jumpa,” ucap Awan.

Awan itu pun terbang mendahului Somi Kelinci. Namun, Somi Kelinci segera mengejarnya.

“Tolong, jangan pergi! Nanti aku ke­panasan. Baiklah, kamu tidak mengikutiku Kita berjalan bersama-sama saja,” bujuk Somi.

Baca juga:
Bero Beruang Penyuka Rasberi
Kedai Cokelat Tuan Grey
Bunga Kolam
Bulu Cantik Koli Ayam

“Tetapi, kamu bau. Jangan-jangan kamu belum mandi?” tanya Awan dengan penuh selidik.

“Aku sudah mandi kemarin,” jawab Somi dengan berbohong.

Somi Kelinci memang paling malas mandi. Dia bisa mandi tiga hari satu kali. Dia tidak peduli akan bau tubuhnya yang tidak enak. Dia juga jarang ganti baju.

“Kasihan Kakek Gord jika kamu datang. Hidungnya pasti tersiksa dengan baumu,” kata Awan.

“Ah, kamu terlalu berlebihan. Kakek Gord pasti sangat suka jika cucu kesayangannya datang,” sanggah Somi.

“Tetapi, lebih baik kamu mandi dulu. Itu, di sana ada sungai,” saran Awan.

Namun, Somi melewati sungai begitu saja. Dia masih malas mandi. Lagi pula, air sungai itu sangat dingin.

“Kenapa tubuhmu menjadi lebih besar, Awan?” tanya Somi, mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Karena kita sudah hampir sampai di pegunungan. Makin tinggi tempat kita, tekanan udara juga makin tinggi, sehingga tubuhku akan menjadi makin lebar dan besar,” jelas Awan.

“lya. Kita memang hampir sampai di rumah Kakek Gord. Huh! Hawanya mulai dingin. Untunglah, tadi aku tidak jadi mandi di sungai,” ucap Somi.

Tak lama kemudian, Awan menjadi lebih gelap. Olala, tiba-tiba ia mengeluarkan hujan dan membasahi tubuh Somi.

“Apa yang kamu lakukan, Awan? Dingin sekali!” teriak Somi.

“Aku sudah sampai di tujuanku. Di bukit ini, aku memang harus menurunkan hujan untuk bumi, dan juga agar kamu mandi,” jawab Awan.

“Ah, dingin sekali!” Somi Kelinci berlari menuju rumah Kakek Gord.

“Kau harus rajin mandi, Somi. Kalau tidak, akan ada awan yang mengikutimu, lalu kamu akan mandi air hujan yang dingin! Hahaha!” teriak Awan dengan keras sampai terdengar oleh Somi.

Somi menggeleng keras. “Aku tidak mau!”

Somi berlari makin kencang menuju rumah Kakek Gord. Dia tidak mau ada awan yang mengikutinya lagi. Dia harus rajin mandi, katanya dalam hati.

Pesan Moral : Tidak boleh banyak alasan. Kamu harus rajin mandi agar tidak bau.

Selain Cerita Fabel Kelinci : Diikuti Awan, baca juga cerita anak terbaik kami lainnya. Dan jangan lupa untuk terus ikuti kami di facebook kita yah https://www.facebook.com/katakatakitadotcom/ .

Cerita Fabel Hewan Rubah : Kedai Cokelat Tuan Grey

Halo semua, kali ini judulnya cerita fabel hewan rubah : Kedai Cokelat Tuan Grey yang bercerita tentang Grey Rubah, Weli Rubah dan Foci Sapi. bakalan seru loh ceritanya dan ada pesan baik untuk teman semua. Yuk langsung kita baca!

Cerita Fabel Hewan Rubah : Kedai Cokelat Tuan Grey

Cokelat panas di kedai kopi Tuan Grey Rubah memang terkenal lezat. Buktinya, banyak hewan yang rela mengantre. Lihat saja antrean panjang di depan kedai itu. Antreannya seperti ular naga. Di tengah antrean itu, tampak Weli Rubah dan Foci Sapi ikut mengantre.

“Weli, kamu, ‘kan, keponakan Tuan Grey?” tanya Foci sambil mempererat jaketnya karena udara sore itu cukup dingin.

“Terus kenapa?” tanya Weli yang tidak mengerti.

“Kamu harusnya mendapatkan pe­layanan istimewa dan tidak usah mengantre panjang seperti ini,” ujar Foci. Foci sungguh tidak sabar untuk mencoba cokelat panas terlezat itu, apalagi antrean di depannya masih panjang.

“Aku juga sama dengan yang lain, yaitu pembeli. Jadi aku harus mengantre,” ujar Weli.

“Tapi, aku sudah ingin cepat-cepat merasakan cokelatnya,” rengek Foci. “Kalau menunggu antrean, terlalu lama.”

“Sabar, nanti juga kita akan mendapat giliran untuk membeli,” ucap Weli.

Foci sebal. Ia tidak ingin antre. Berdiri lama-lama di antara barisan itu melelahkan. Kakinya pegal.

“Jika kamu keluar dari barisan, tempatmu akan diambil oleh pengantre yang lain,” kata Weli.

Baca juga :
Belajar Rasi Bintang
Bero Beruang Penyuka Rasberi
Biji dari Nyonya Ros Bangau

Foci tidak mau itu terjadi. Ia sudah sangat penasaran dengan rasa cokelat Tuan Grey. Selezat apa sih cokelat panas Tuan Grey, sampai para hewan mau mengantre panjang.

Makin dekat dengan tempat Tuan Grey meracik cokelatnya, aroma cokelat yang manis dan harum makin tercium oleh Foci dan Well, membuat Foci makin penasaran. Berbeda dengan Weli, ia sudah biasa merasakan cokelat itu.

Akhirnya, tiba giliran Foci dan Weli untuk dilayani. Tuan Grey menyapa dengan ramah, “Hei, Weli, kamu datang bersama temanmu?”

“Iya, Paman Grey. Dia Foci Sapi, siswa pindahan di sekolahku. Dia sungguh penasaran dengan rasa cokelat panas buatan Paman,” ujar Weli.

“Sebentar, akan kubuatkan dua cokelat panas.” Dengan cekatan, Tuan Grey membuatkan dua gelas cokelat panas dan memberikannya kepada Weli.

“Ini uangnya, Paman,” ucap Weli seraya memberikan uang kepada pamannya itu.

“Tidak usah. Uangnya kamu simpan saja untuk membeli yang lain,” kata Tuan Grey.

“Terima kasih,” ucap Weli dan Foci dengan riang.

Weli memberikan segelas cokelat panas untuk Foci dan mereka keluar dari antrean. Foci segera mencoba cokelat panas itu. Barumencicipi sedikit, is langsung berseru, “Enak sekali!”

“Tentu saja. Kamu tahu, Foci, mengapa cokelat di kedai kopi Tuan Grey sangat lezat?” tanya Weli.

“Pasti karena biji cokelatnya pilihan, ‘kan?” jawab Foci.

“Memang benar. Tetapi, ada rahasia lain,” kata Weli.

“Apa itu?” tanya Foci penasaran.

“Rahasia kelezatan cokelat panas Tuan Grey adalah karena cokelat panas tersebut merupakan basil clari kesabaran kita mengantre. Jadi, ketika kita meminumnya, kita merasa bahagia karena sudah bisa bersabar,” jelas Weli sambil mengacungkan jempolnya. “Kamu hebat sudah bisa ber­sabar, Foci.”

“Hehehe. Aku juga merasa bangga karena sudah bisa bersabar,” ucap Foci.

Foci menyeruput cokelatnya sampai habis. Rasa cokelatnya memang membuat ketagihan. Besok, Foci siap bersabar untuk mengantre demi mendapat cokelat panas Tuan Grey lagi.

Pesan Moral : Mengantri akan melatih kesabaranmu.

Selain Cerita Fabel Hewan Rubah : Kedai Cokelat Tuan Grey, baca juga cerita anak terbaik kami lainnya. Dan jangan lupa untuk terus ikuti kami di facebook kita yah https://www.facebook.com/katakatakitadotcom/ .

Cerita Fabel Anak : Bunga Kolam

Hai semua, kali ini judulnya cerita fabel anak : bunga kolam yang bercerita tentang Asel Rubah dan Seo Ikan. bakalan seru loh ceritanya dan ada pesan baik untuk teman semua. Yuk langsung kita baca!

Cerita Fabel Anak : Bunga Kolam

Cerita Anak : Bunga Kolam
Cerita Anak : Bunga Kolam

Rintik hujan beradu dengan jas hujan yang dikenakan Asel Rubah. Suaranya seperti musik yang indah. Asel jadi makin semangat menari, berputar-putar di tengah lapangan sambil bersenandung.

Asel Rubah memang suka sekali berhujan-­hujan. Ibunya tahu itu dan mengizinkan Asel untuk meIakukan kesukaannya tersebut, asalkan Asel Rubah memakai jas hujan.

Ketika hujan reda, Asel melihat bunga cantik di pinggir lapangan. Ia menghampiri bunga itu dan memetiknya.

“Aku akan memberikan bunga ini kepada ibu. lbu pasti senang,” pikir Asel.

Bunga kuning di tangan Asel cukup besar. Bentuknya kerucut dan berwarna kuning. Banyak air hujan yang tertampung pada bunga itu.

“Bunga apa ini? Ah! Aku akan me­namainya bunga kolam saja, karena bunga ini bisa menampung air seperti kolam,” kata Asel.

Asel pun membuang air di dalam bunga itu. Olala, tak sengaja, air itu mengenai seekor ikan kecil yang terjepit di rerumputan.

“Oh, tidak. Aku harus menolong ikan ini!” seru Asel.

Asel menyadari bahwa ikan kecil itu hampir mati karena tidak berada di air. Asel langsung memetik bunga kerucut kuning lagi, dan menaruh ikan kecil itu ke dalam air hujan yang tertampung di bunga.

“Kamu belum mati, `kan, ikan kecil?” tanya Asel sembari mengamati ikan kecil yang tidak bergerak sedikit pun. “ikan kecil, bangunlah!”

Untunglah, ekor ikan kecil itu bergerak. Tak lama kemudian, keIuar gelembung udara dari mulut ikan kecil dan ia berenang di dalam bunga kolam itu. Asel bernapas lega melihatnya.

“Terima kasih, kamu telah menolongku. Tanpamu, aku pasti sudah mati,” kata ikan kecil itu. “Salam kenal. Namaku Seo, anak ikan emas.”

[Baca juga : Anak-Anak Nyonya Desi Bebek]

“Sama-sama, Seo. Namaku Asel Rubah.” Asel tersenyum lagi. “Oh, iya, Sea. Kenapa kamu bisa tersangkut di antara rerumputan?”

“Tadi hujan deras dan air kolam meluber. Aku tidak mendengarkan nasihat ibuku untuk bersembunyi di bawah daun teratai. Aku malah muncul ke permukaan. Akibatnya, aku terbawa air yang meluber,” kata Seo dengan sedih.

“Tetapi, sekarang kamu sudah selamat. Tenang saja, aku akan mengantarmu bertemu ibumu lagi. Kamu tinggal di kolam mana?” tanya Asel.

“Aku tinggal di kolam milik Kaci Kancil,” jawab Seo.

“Rumah Kaci Kancil tidak jauh dari sini. Aku akan mengantarkanmu ke sana,” ucap Asel.

“Kamu baik sekali, Asel,” puji Seo.

Dengan hati-hati, Asel membawa bunga kolam itu agar air di dalamnya tidak terguncang. Jika itu sampai terjadi, kasihan Seo, pasti ia akan pusing.

Akhirnya, Asel sampai di kolam milik Kaci Kancil. Dengan hati-hati, Asel menaruh bunga itu di kolam. Seo lalu berenang keluar dari bunga itu dan bertemu ibunya.

“Terima kasih, Asel. Kamu telah peduli dan mau membantuku,” ujar Seo. Kepalanya terlihat menyernbul dari permukaan air.

“Sama-sama, Seo. Aku senang bisa membantu. Aku harus pulang dan mandi sekarang. Kapan-kapan aku akan menemuimu lagi, Sao. Sampai jumpa,” pamit Asel.

Asel mengambil bunga kerucut kuning itu dari kolam, kemudian berlari pergi.

“Aku akan menunggumu. Sampai jumpa, Asel!” teriak Seo.

Pesan Moral : Dalam situasi sulit, kamu harus bertindak tanggap untuk menolong orang lain.

Selain cerita fabel anak : Bunga Kolam, baca juga cerita anak terbaik kami lainnya. Dan jangan lupa untuk terus ikuti kami di facebook kita yah https://www.facebook.com/katakatakitadotcom/ .

Pin It on Pinterest