Reyo Belajar Sabar

Reyo! Kamu terlalu terburu-buru mengangkat kuenya!” ujar Dyo Kanguru kepada Reyo Rakun. “Kuenya belum matang. Aku, ‘kan, sudah bilang, angkat kuenya setelah 60 menit. Ini baru 45 menit.”

“Tetapi, kuenya sudah harum, jadi aku kira sudah matang,” ujar Reyo dengan menunduk. “Maafkan aku.”

“Aku maafkan. Tetapi, maaf, Reyo. Mulai hari ini, kamu tidak bisa bekerja lagi di toko kueku. Aku butuh pekerja yang sabar,” kata Dyo sambil memberikan upah kepada Reyo.

Reyo tidak protes. Dia menerima upahnya dan keluar dari toko. Dia menatap toko-toko di Negeri Hewan. Selain di toko kue Dyo Kanguru, Reyo juga pernah bekerja di toko-toko lain.

Reyo pernah bekerja di kedai cokelat Tuan Beru Beruang. Tetapi baru dua hari bekerja di sana, Reyo sudah dipecat. Be­berapa kali, ia memecahkan cangkir karena dia berjalan terburu-buru menuju meja pelanggan.

Reyo juga pernah bekerja di toko bunga Lola Bangau. Setelah seminggu, ia dipecat juga, gara-gara ia terburu-buru menyirami air pada pot-pot bunga. Sampai-sampai, ia tidak menyadari bahwa ia menyiram terlalu banyak pada pot kaktus. Alhasil, kaktus­-kaktus itu membusuk dan mati.

“Semua toko butuh pekerja yang sabar, tetapi aku selalu terburu-buru,” kata Reyo Rakun dengan sedih.

Reyo lalu melihat pengumuman lowongan pekerjaan. Pengumuman itu tertempel di rumah Nyonya Yuan Angsa. Nyonya Yuan Angsa adalah penjahit ternama di Negeri Hewan.

Reyo ragu-ragu untuk melamar pe­kerjaan itu. la yakin, menjadi penjahit harus sabar, dan itu bukan dirinya. Pasti ia tidak akan diterima bekerja oleh Nyonya Yuan Angsa.

Tiba-tiba, Nyonya Yuan keluar rumah dan melihat Reyo. Dia bertanya, “Apa kamu mau melamar menjadi penjahitku?”

Reyo mengangguk dan berkata, “Tetapi, aku orang yang terburu-buru dan tidak sabar.”

“Oh, tidak apa-apa. Aku hanya butuh penjahit yang tekun dan teliti,” ucap Nyonya Yuan Angsa.

Nyonya Yuan Angsa mempersilakan Reyo masuk. Kemudian, Nyonya Yuan Angsa memberikan wol merah dan jarum rajut kepada Reyo. Reyo menatap kedua benda itu dengan bingung.

“Aku tidak pernah merajut, Nyonya Yuan,” kata Reyo. “Aku tahu, makanya akan kuajari dan kamu harus perhatikan dengan baik-baik,” ujar Nyonya Yuan.

“Baik, Nyonya Yuan,” ucap Reyo. Nyonya Yuan mempersilakan Reyo Rakun untuk duduk di sampingnya. Nyonya Yuan lalu mulai mengajari Reyo. Reyo memperhatikan dengan saksama.

Kali ini, Reyo tidak bisa terburu-buru. Jika salah memasukkan benang, pola rajutan bisa berbeda. Reyo juga belum hafal pola-­pola merajut. Jadi dia harus melihat contoh gambar pola di buku.

Setelah lama berlatih, akhirnya Reyo bisa merajut. ltu juga berkat ketekunan dan ketelitian Reyo ketika merajut.

Reyo tersenyum melihat hasiI rajutannya. Sebuah topi rajut berwarna merah. Topi ini bukan hasil rajutan pertamanya, keduanya, atau ketiganya, namun rajutannya yang kedua puluh. Tanpa Reyo sadari, dari merajut, ia belajar bersabar.

Sekarang, Reyo Rakun pintar merajut. Banyak pembeli yang menyukai hasil rajutannya. Nyonya Yuan pun menjadikan Reyo Rakun sebagai pegawai tetap di tempatnya.

Pesan Moral: Ketika kita bekerja, kita harus sabar dan teliti.

Selain cerita fabel “Reyo Belajar Sabar”, baca juga tentang TravelHealth dan Cerita Anak terbaik kami lainnya. Dan jangan lupa untuk terus ikuti kami di facebook kita yah https://www.facebook.com/katakatakitadotcom/.

Tinggalkan komentar

Pin It on Pinterest