Gara-Gara Mantra Sihir

Gara-Gara Mantra Sihir
Gara-Gara Mantra Sihir

Malam itu, Fipo Tikus keluar rumah dengan memakai jubah hitam. Satu tangannya memegang tongkat sihir, se­dangkan tangan yang lain membawa buku mantra sihir. Dia hendak mempraktikkan satu mantra sihir yang dipelajarinya, yaitu mantra menghilangkan benda.

“Daripada menghilangkan benda, lebih baik aku menghilangkan Riko Rubah yang menyebalkan!” pikir Fipo sambil tersenyum jahil.

Fipo berjalan mengendap-endap me­nuju rumah Riko Rubah. Riko Rubah sangat cerewet. Dia kerap memarahi Fipo karena Fipo sering menyembunyikan benda-benda milik kawan-kawan. Fipo selalu bilang bahwa benda-benda itu hilang karena sihirnya. Tetapi, Riko Rubah tidak pernah percaya dan meminta Fipo mengembalikan benda-benda itu.

“Kali ini, Riko harus percaya bahwa mantraku bisa menghilangkan benda, ter­masuk dirinya. Hehehe!” gumam Fipo.

Fipo mengetuk pintu rumah Riko Rubah. Tepat ketika Riko Rubah membuka pintu, Fipo mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Riko Rubah. Fipo membaca mantra, “Hilang!”

Bush! Asap putih mengepul menyelimuti Riko Rubah. Riko Rubah menghilang. Fipo pun berteriak, “Berhasil! Mantraku berhasil!”

“Apa yang kamu lakukan kepada Riko?” teriak Gugu Anjing dengan histeris dari jendela rumahnya. Ternyata dia melihat kejadian hilangnya Riko Rubah.

“Oh, tidak! Kamu juga harus hilang, Gugu!” seru Fipo panik.

Fipo takut ulahnya akan ketahuan. Dia tidak mau Gugu Anjing lapor kepada kawan­kawan lain, lalu mereka meminta Fipo mengembalikan Riko. Fipo belum belajar mantra mengembalikan.

Fipo mengarahkan tongkat sihir ke arah Gugu dan membaca mantra, “Hilang! Hilang!”

Untungnya, Gugu bisa menghindar. Dia berteriak, “Tolong! Tolong!”

Seketika, para hewan berdatangan. Tubuh Fipo makin gemetar.

“Riko Rubah menghilang! Dia terkena sihir Fipo!” teriak Gugu Anjing. Olala, Gugu Anjing jadi lengah. Ia pun terkena sihir Fipo dan menghilang. Hewan-hewan yang melihatnya menjadi geram kepada Fipo.

Fipo panik. Dia mengarahkan tong­katnya kepada hewan-hewan yang makin mendekat.

Fipo berteriak, “Hilang! Hilang!”

Hewan-hewan itu pun satu per satu menghilang terkena sihir Fipo, sampai tidak ada yang tersisa. Fipo tercengang. Hutan menjadi sepi sekali, tidak ada penghuninya. Semua hilang karena terkena sihirnya.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Fipo bingung.

Hari berganti hari. Fipo merasa kesepian. Dia sudah belajar mantra mengembalikan. Tetapi, ia tetap tidak berhasil mengembalikan penghuni hutan. Fipo menangis, ia merasa bersalah.

Tiba-tiba air matanya menjadi besar dan pecah. la menumpahkan airnya yang banyak sampai banjir. Olala, Fipo tenggelam.

“Tolong! Tolong!” Namun, tidak ada yang menolong Fipo. Semua hewan sudah ia hilangkan.

“Fipo, di mana dasiku? Kamu menyem­bunyikannya?” teriakan itu membangunkan Fipo dari tidurnya. Napas Fipo tersengal­sengal.

“Bukankah itu suara Riko Rubah?” tanya Fipo yang tak percaya. la langsung keluar rumah dan… ada Riko Rubah di depan pintu!

Fipo memeluk Riko lega. “Kamu kern­bali! Maafkan aku! Aku tidak akan jahil lagi! Akan kukembalikan semua benda yang kusembunyikan.”

Tentu saja Riko Rubah kebingungan dengan sikap Fipo itu. Meski tidak tahu apa yang terjadi, Riko Rubah tersenyum lega.

Pesan Moral : Tidak boleh berbuat jahil kepada siapa pun, apalagi membuat orang lain kesulitan.

Selain cerita fabel “Gara-Gara Mantra Sihir”, baca juga tentang TravelHealth dan Cerita Anak terbaik kami lainnya. Dan jangan lupa untuk terus ikuti kami di facebook kita yah https://www.facebook.com/katakatakitadotcom/.

Tinggalkan komentar

Pin It on Pinterest