Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura

Halo kawan-kawan semua, kali ini ada kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura. Bakalan seru loh ceritanya dan ada pesan baik untuk teman-teman semua. Yuk langsung kita baca!

Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura : Kulit Pisang

Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura : Kulit Pisang
Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura : Kulit Pisang

Kimta Kura-Kura dan Jiji Anjing sedang berjalan di pinggir hutan. Tiba-tiba, Jiji terpeleset dan jatuh. Ternyata kakinya menginjak kulit pisang. Untungnya, dia tidak apa-apa.

Kimta lalu memungut kulit pisang di tanah. “Siapa yang membuang kulit pisang ini?”

Jiji mengendus-endus tanah dan mengi­kuti jejak kulit pisang itu. Kimta mengikutinya dari belakang. Jejak kulit pisang itu pun berakhir di pohon apel.

“Jadi Moni yang membuang kulit pisang sembarangan?” seru Kimta.

Moni yang mendengar teriakan tersebut, sontak menatap ke bawah. “A…aku ti…tidak bermaksud mencelakaimu. Ma… maafkan aku,” ucap Moni sambil turun dari pohon.

“Baiklah, kali ini kami maafkan. Tetapi, lain kali kamu harus buang sampah di tempatnya,” nasihat Kimta.

“Ta…tapi, aku sudah terbiasa. Jadi, tanpa sadar aku membuang kulit pisang sembarangan.” Moni menangis. “Aku harus bagaimana?”

Ah! Kimta dan Jiji jadi merasa kasihan kepada Moni. Mereka tidak mau kebiasaan Moni membuang kulit pisang sembarangan membuat hewan-hewan lain celaka.

“Aku punya cara,” celetuk Kimta sembari mengeluarkan tas karung dari sakunya. “Pakailah ini ke mana pun kamu pergi. Kamu dapat membuang kulit pisangmu di karung ini.”

Moni menerima karung itu dan bersorak riang. Dia janji akan selalu memakai tas karung itu dan membuang sampah makanannya di situ.

Namun sayangnya, tiga hari kemudian, Jiji dan Kimta melihat kulit-kulit pisang kembali berserakan di hutan.

“Ternyata Moni hanya pura-pura me­nyesal. Janjinya pun pasti hanya omong kosong,” kata Jiji. “Dia pasti tidak memakai tas karung yang kau beri, Kimta.”

Kimta memunguti kulit-kulit pisang dan memasukkannya ke tas karung miliknya. “Aku akan menemuinya.”

Kimta pergi menemui Moni. Olala, betapa terkejutnya Kimta sesampainya di pohon apel, rumah Moni. Banyak sekali kulit pisang berserakan di sana.

“Moni, apakah kamu yang membuang kulit pisang sembarangan lagi?” tanya Kimta.

Moni tampak bingung. Justru dia baru sadar bahwa ada banyak sekali kulit pisang di tanah.

Baca juga:
Cerita Bergambar Beruang & Kelinci
Kakek Tepat Waktu
Jiji Si Anjing Terrier
Kisah Menegangkan di Sungai

“Tidak! Lihat, aku selalu memakai tas karung pemberianmu dan membuang kulit pisang ke dalamnya,” elak Moni sambil berbalik, memperlihatkan tas karung di punggungnya.

Melihat tas kantong itu, Kimta mengang­gut. “Oh, ternyata begitu. Benar, kamu selalu membuang kulit pisang ke tasmu. Tetapi, kamu tidak sadar bahwa tasmu itu sudah penuh oleh kulit pisang. Akibatnya, kulit pisang dari tasmu berjatuhan ke tanah.”

“Maafkan aku,” ucap Moni sedih. “Apa aku boleh minta tas karung baru, Kimta?”

“Tidak perlu tas baru. Kamu tinggal membuang sampahnya dan memakai tas itu kembali,” ujar Kimta.

“Kalau aku buang, kulit-kulit pisang akan makin berserakan dan mencelakai hewan lain,” sahut Moni.

“Makanya, buanglah di tempat yang benar.” Tangan Kimta menggali tanah di bawah pohon apel, lalu memasukkan kulit-­kulit pisang di tasnya ke dalam lubang itu. “Giliranmu memasukkan isi tasmu.”

Moni menumpahkan isi tasnya hingga lubang itu penuh kulit-kulit pisang. Lalu, Kimta menutup lubang itu dengan tanah.

“Tasmu sudah kosong dan kamu bisa makan pisang sesukamu. Jika tasmu kembali penuh, tinggal kubur raja sampahnya. Kulit pisang itu pasti akan berharga untuk kita.”

Sejak saat itu, Moni bisa sepuasnya me­makan pisang. Setiap tasnya penuh, dia akan mengubur kulit-kulit pisang dalam tanah di dekat pohon apel.

Ternyata kulit pisang yang dikubur itu berubah menjadi kompos. membuat tanah menjadi subur dan pohon apel berbuah lebat. Kimta dan Moni senang sekali karena bisa memakan apel sepuasnya. Karena daunnya lebat, Jiji pun suka tidur di bawah pohon apel yang teduh itu.

Pesan Moral: Teman-teman, tidak boleh membuang sampah sembarangan ya!

Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura : Pohon Apel Kimta

Kimta Kura-Kura menatap pohon apel miliknya. Buah apelnya sangat lebat, berwarna merah, dan siap dipanen. Kalau tidak segera dipanen, nanti buah apelnya busuk.

“Bagaimana caraku memanen apel-apel itu? Aku tidak bisa memanjat,” pikir Kimta yang sedang duduk bersandar pada batang pohon apel. Kura-kura memang tidak bisa memanjat pohon.

Tak lama kemudian, Lemo Kara datang. “Hei, Kimta! Kenapa kamu terlihat bingung?”

Kimta menunjuk ke buah-buah apelnya. “Hei juga, Lemo! Aku ingin memanen apel-­apelku, tapi aku tak bisa memanjat.”

Lemo menatap ke atas. Matanya se­ketika berbinar mendapati apel-apel merah yang begitu menggiurkan. Sampai-sampai Lemo berkhayal berada di atas awan, terbang bersama apel-apel merah yang besar, dan ia memeluk sebuah apel besar lalu menggigitnya. Huaa! Lezat sekali.

Kimta menepuk punggung Lemo, mem­buat Lemo terbangun dari khayalannya. “Bukankah kamu pintar sekali memanjat, Lemo? Bantulah aku.”

Lemo diam sejenak. Memetik apel sebanyak ini pasti melelahkan. Lagi pula Lemo yakin, Kimta hanya akan memberikan imbalan sedikit. Paling hanya dua buah apel. Tetapi, jika Lemo memakan apel itu di atas pohon, ia bisa memakan sepuasnya, pikir Lemo dalam hati.

“Oke, aku akan memetik apel-apel itu,” kata Lemo dengan semangat. “Lalu akan kumakan sendiri,” lanjut Lemo dalam hati.

Kimta tersenyum lega. Akhirnya ada yang mau membantunya memetik apel. Apalagi yang membantunya adalah Lemo, si monyet yang pintar memanjat. Pasti memanen buah apel jadi cepat.

“Petiklah apel berwarna merah kehitaman. Itu apel yang paling manis. Lalu kau jatuhkan ke tumpukan daun yang sudah kusiapkan ini. Aku akan mengumpulkan apel itu,” tutur Kimta.

“Oke, oke,” kata Lemo tidak acuh. Ia mulai memanjat.

Baca juga:
Bero Beruang Penyuka Rasberi
Kedai Cokelat Tuan Grey
Bunga Kolam
Bulu Cantik Koli Ayam

Di atas pohon, dengan serakah, Lemo melahap apel-apel itu sampai puas. Tidak ada satu pun buah apel yang Lemo jatuhkan. Melihat itu, Kimta menjadi kesal.

“Apa yang kamu lakukan, Lemo? Kamu tidak membantuku. Kamu malah memakan apel-apelku tanpa seizinku. Kamu pencuri!” seru Kimta.

“Aku bukan pencuri. Kamu melihatku sedang memetik apel-apel ini. Hahaha!” Lemo menjulurkan lidah. Dia memang be­nar-benar licik dan tidak dapat dipercaya.

Lemo melompat dari satu ranting ke ranting lainnya seperti sedang menari. Dia pun memetik dan memakan apel itu sampai perutnya buncit.

Namun, karena tidak hati-hati, Lemo menginjak ranting yang rapuh. Krek! Ranting itu patah.

“Aaaaa!” teriak Lemo.

Bruk! Lemo pun terjatuh. “Aduh, sakit!” erang Lemo.

Beruntung, Lemo terjatuh di antara tumpukan daun, sehingga lukanya tidak parah. Kimta segera menolong Lemo. Di­petiknya daun-daun obat dan dibalutnya daun-daun itu pada luka Lemo. Tak lama kemudian, darah pada luka Lemo terhenti.

Lemo hanya terdiam menerima kebaikan Kimta. Ia jadi merasa sangat bersalah. Kimta tetap menolongnya meskipun Lemo telah mencuri apel-apelnya.

“Maafkan aku, Kimta. Aku berbuat licik kepadamu. Aku akan menepati janji. Aku akan membantumu memetik apel-apel itu,” ucap Lemo.

“Aku maafkan. Tetapi, kamu tidak boleh memetik apel-apel itu sekarang. Tunggu sampai lukamu sembuh, baru kamu boleh membantuku,” kata Kimta.

Mendengar hal itu, Lemo merasa amat terharu. Dia janji tidak akan berbuat licik lagi dan akan membalas kebaikan Kimta.

Pesan Moral: Jika sudah dipercaya, kamu harus bertanggung jawab dan tidak boleh licik.

Cerita Fabel Kura-Kura : Perjalanan yang Pelan

Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura : Perjalanan yang Pelan
Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura : Perjalanan yang Pelan

“Hei, Sepi. Kamu pasti juga akan mengunjungi Bu Foni Kuda, `kan? Ayo, berangkat bersama,” kata Kio Kura-Kura kepada Sepi Sapi.

Bu Foni Kuda adalah guru Kio Kura-Kura dan Sepi Sapi. Bu Foni baru saja meiahirkan. Jadi, banyak murid yang mengunjungi rumah Bu Foni. Selain ingin menjenguk Bu Foni, mereka juga ingin melihat bayi Bu Foni.

“lya, Kio. Aku mau ke rumah Bu Foni. Ayo, kita berangkat bersama,” jawab Sepi Sapi.

Walaupun rumah Bu Foni tidak terlalu jauh, namun untuk sampai ke sana pasti membutuhkan waktu yang lama. ltu karena Sepi berjalan bersama Kio Kura-Kura yang jalannya sangat pelan. Sepi tidak ingin menyakiti Kio dengan menolak ajakannya. Akhirnya mereka pun berangkat bersama menuju rumah Bu Foni.

Di perjalanan, Sepi harus ikut-ikutan berjalan pelan. Jika dia berjalan seperti biasa, Kio Kura-Kura akan tertinggal.

“Aku sering mendengar kamu diejek teman-teman karena berjalan Lambat. Kamu pasti kesal karena tidak bisa berjalan cepat, ya, Kio?” tanya Sepi.

“Ah, tidak juga. Awalnya aku iri dengan teman-teman yang berjalan cepat. Tetapi, setelah aku menerima bahwa diriku tidak bisa berjalan cepat, aku dapat menikmati hidupku. Dan aku pun merasa senang karena berjalan pelan,” cerita Kio.

“Merasa senang?” tanya Sepi, heran.

“Tentu. Lihat itu! Di bawah semak, ada bunga kecil cantik yang bergerombol di sana. Ayo, kita petik untuk Bu Foni!” jawab Kio.

Sepi mencari bunga kecil yang dimaksud Kio. Tetapi, dia tidak menemukannya. Karena penasaran, Sepi pun mengikuti Kio. Betapa terkejutnya ia saat melihat segerombolan bunga cantik di balik semak.

“Kamu hebat sekali bisa melihat bunga di balik semak, Kio!” seru Sepi Sapi.

“Berjalan pelan membuatku lebih teliti dengan apa saja yang kulewati,” kata Kio.

“Wah, cantik sekali bunga ini!” Sepi memetik beberapa tangkai. “Harum! Pasti Bu Foni akan menyukainya.”

“KaLau tadi kita berjalan cepat, pasti kita tidak akan melihat bunga sekecil ini.” Kio ikut memetik bunga itu beberapa tangkai. “Karena aku berjalan pelan, aku bisa mengamati lebih banyak apa saja yang kulewati.”

“Selama ini aku berjalan cepat, jadi aku tidak sempat mengamati apa yang kulewati,” aku Sepi Sapi.

Baca juga :
Belajar Rasi Bintang
Bero Beruang Penyuka Rasberi
Biji dari Nyonya Ros Bangau

“Sekarang, kita berjalan pelan-pelan. Coba kamu amati apa yang kita lewati. Kamu pasti akan terkejut,” saran Kio Kura-Kura.

Mereka pun berjalan kembali dengan pelan-pelan. Rupanya benar apa yang dikatakan Kio. Karena berjalan pelan-pelan, Sepi bisa menemukan banyak hal baru. Ada jamur, tanaman obat, buah lezat, bahkan bentuk-bentuk awan yang lucu.

“Berjalan pelan ternyata menyenangkan sekali!” ucap Sepi yang sedang menatap semak-semak. Dia melihat beri yang masak. “Bantu aku memetik buah beri itu, Kio. Kita bisa memberikannya kepada Bu Foni.”

Sepi Sapi sangat menikmati berjalan dengan pelan-pelan. Hingga tak terasa, mereka sudah sampai di rumah Bu Foni.

Hari ini, Sepi belajar dari Kio tentang berjalan dengan pelan. Meski berjalan dengan pelan, mereka tetap sampai di tempat tujuan. Bahkan bisa menemukan banyak hal baru.

Pesan Moral: Sewaktu-waktu, cobalah untuk berjalan pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Dengan berjalan pelan-pelan, kamu akan menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Selain Kumpulan Cerita Fabel Kura-Kura, baca juga cerita anak terbaik kami lainnya. Dan jangan lupa untuk terus ikuti kami di facebook kita yah https://www.facebook.com/katakatakitadotcom/.

Tinggalkan komentar

Pin It on Pinterest